Sunday, 13 May 2018

KISAH PERSALINAN : I'M BACK!


"Saya rindu menulis!"


Malam ini tiba-tiba terbesit hal tersebut. Ketika mengakses blog lagi setelah sekian lama, saya meringis saat lihat postingan terakhir. Cerita kehamilan di minggu ke 27. Padahal sekarang anaknya sudah lahir dan berusia 4.5 bulan! Hahaha ya ampun kemana aja sih, bu :p


Sebelumnya saya minta maaf karena update terkait kehamilan terhenti di minggu ke-27. Padahal niat awalnya saya ingin menuliskan kisah lengkap di trimester ketiga, persiapan kebutuhan newborn, moment melahirkan, dst. Sayangnya niat itu terkalahkan oleh mood bumil yang tak terlalu ingin buka laptop untuk menulis. Setelah melahirkan apalagi kan, hecticnya minta ampun! Hehe #baladaibubaru #riweuhpisan.

Tanpa mengurangi rasa hormat, saya langsung lompat ke cerita persalinan ya. Gapapa kan?

Sebenarnya kisah persalinan saya sudah saya tuangkan di post Instagram. Tapi belum afdol rasanya kalau belum ditulis disini. Hitung-hitung sebagai dokumentasi untuk kenang-kenangan di masa yang akan datang.

Berikut ini kisah persalinan saya..

Beberapa minggu sebelum hari perkiraan lahir bayi di dalam perut, saya dan suami terbang ke Bandung. Iya, kami berpisah sementara karena saya dan suami sepakat agar persalinan dilakukan di kota asal kami Bandung. Pertimbangannya banyak sekali, namun yang paling krusial adalah pertimbangan kehadiran keluarga besar saya dan suami di Bandung. Maklum, saya belum pede kalau harus berkutat dengan newborn sendirian. Suami kan bekerja dengan jam kerja yang super unpredictable.

Jika dihitung dari HPHT (hari pertama haid terakhir), persalinan saya diprediksi jatuh pada minggu pertama Januari 2018. Dokter bilang bisa maju, bisa mundur. Tergantung kondisi kehamilan dan kesiapan bayi di perut untuk dilahirkan. Kondisi kehamilan saya di minggu-minggu terakhir bisa dibilang sehat, tapi tidak terlalu sesuai dengan harapan. Kenapa? Karena berat badan bayi saya diprediksi kurang beberapa ratus gram dari berat badan janin ideal. 

Pada saat memasuki minggu ke-37, obgyn saya berkata bahwa janin yang memiliki berat badan dibawah standar akan lebih baik jika segera dilahirkan apabila sudah memasuki cukup bulan. Karena mereka cenderung lebih mudah stress di dalam kandungan. Saat mendengar hal tersebut, jujur saya sangat sedih dan merasa bersalah. Namun keluarga saya senantiasa mengingatkan untuk selalu berpikir positif. Tidak boleh sedih karena nanti adik bayi akan ikut sedih. Saya diminta untuk selalu berdoa agar adik bayi di dalam perut senantiasa sehat, bahagia, sempurna dan tidak kekurangan satu apapun.

Memasuki minggu ke-38, saya mulai mengajak bicara dede di perut.

"Nak, mami sudah siap kapanpun dede siap. Kalau sudah mau keluar kasih tau mami ya.."

Pada tanggal 23 Desember 2017 di usia kandungan 38 minggu 2 hari, sekitar dini hari saya melihat ada flek darah. Seketika saya ge-er dan berpikir, apakah ini salah satu tanda persalinan yang sering saya baca pada buku, forum dan diskusi ibu-ibu hamil. Hanya saja banyak juga yang bilang kalau kemunculan flek tidak selalu menunjukkan bahwa persalinan sudah dekat. Banyak juga ibu hamil yang keluar flek darah namun jarak ke persalinan terpaut 1-2 minggu. Maka dari itu saya masih santai, toh belum ada mules atau kontraksi.

Selang beberapa jam, sekitar pukul 04.00 saya merasakan mules dan kencang-kencang pada perut. Awalnya mulesnya berjeda setengah jam, kemudian jedanya semakin rapat dan rapat. Saat dicek menggunakan aplikasi Baby Center, kontraksinya sudah 5 menit sekali dengan durasi 40 detik lebih. Saya mulai yakin kalau persalinan sudah semakin dekat. Tanpa pikir panjang, saya langsung memberi kabar kepada suami di Denpasar untuk bersiap pulang ke Bandung. Saya pun segera menelpon mama mertua yang sedang berada di Ciwidey. 

Dari kemunculan flek hingga kontraksi rutin, saya ditemani mama. Mama saya sangat menenangkan sekali. Setiap kali saya terlihat takut atau khawatir, beliau selalu mengatakan, "Alhamdulillah sayang, makin dekat dengan dede ya..". Ajaibnya, ketakutan itu hilang dan tergantikan dengan rasa excited dan tak sabar untuk bertemu dengan bayi yang 9 bulan terakhir saya bawa kemana-mana ini. Mama juga lah yang mengingatkan saya untuk makan berat serta mandi dan keramas meskipun waktu masih menunjukkan 05.00 pagi. Makan berat diperlukan untuk mengisi tenaga karena menikmati mules saat kontraksi itu butuh banyak tenaga. Lalu apa hubungannya dengan mandi dan keramas? Soalnya kita tidak akan tahu kapan bisa mandi dan keramas dengan khusyuk lagi setelah melahirkan. Dan ini memang benar adanya!

Jam 8an pagi saya meluncur ke rumah sakit. Di tengah perjalanan saya masih ngemil cakwe, kurma, roti, dan lain-lain. Saat menelpon suami pun saya sambil asyik makan. Sampai-sampai suami bingung, katanya "Ini kamu beneran mau lahiran yang? Kok santai amat sih masih bisa makan ini-itu?!". Hahaha. Saya balas jawab kalau saya memang berniat makan sekenyang mungkin supaya gak lemes. Suami cuma bisa ketawa campur panik. Mungkin dalam hati dia bergumam kalau istrinya gitu amat ya, lagi kontraksi pun tetep lho makannya banyak. Hahaha. Di telepon, dia mengabarkan kalau dia dapat tiket pukul 13.30 dan perkiraan akan sampai di Bandung pukul 15.00.

Begitu sampai di rumah sakit, saya cek pembukaan dan ternyata sudah pembukaan 2! Alhamdulillah saya lega campur miris. Miris karena sadar bahwa pembukaan 2 pun mulesnya ternyata lumayan heboh ya.. Waduh..


Sambil menunggu ruangan inap disiapkan dan gym ball diturunkan dari mobil, saya berjalan kaki kesana kemari. Saya banyak baca kalau saat kontraksi akan lebih baik untuk terus bergerak dan bukan diam pasrah kesakitan di kasur, agar sakitnya tidak terlalu intens. Setelah jalan kaki sekitar 30 menit, saya diberitahu kalau ruangan sudah siap. 

Sesampainya di ruangan, mama dan mama mertua langsung sigap menyuapi saya makan. Makannya pun ga tanggung-tanggung; nasi, sop buntut, cokelat, kurma, teh manis hangat, semuanya deh saya makan. Sambil makan, saya sembari main di gym ball, melakukan pose yoga yang disarankan saat pembukaan (malasana, goddess, butterfly) dan mendengarkan murothal Al Quran supaya pikiran dan hati lebih tenang. 

Sekitar pukul 10.00 bidan melakukan cek dalam lagi karena melihat kontraksi saya semakin rapat. Saat dicek ternyata sudah pembukaan 4. Ah, senangnya! Bidan langsung menginstruksikan saya untuk istirahat dan bersiap masuk ke ruangan bersalin jika sudah masuk ke pembukaan 6. Saya memasuki pembukaan 6 pada pukul 12.00. Para bidan dan suster yang bertugas pun membawa saya ke ruangan bersalin. 

Dulu, saya pikir persalinan akan terasa menakutkan. Ternyata apa yang saya rasakan hanya perasaan tak sabar untuk bertemu dengan anak bayi di perut. Nah.. Meskipun tidak ada rasa takut, bukan berarti tidak sakit ya hahaha.. Setelah pembukaan 6, rasa kontraksinya semakin nikmat. Sangat nikmat. Di tengah kenikmatan gelombang cinta, saya berusaha tetap mempraktekan nafas panjang yang saya pelajari di kelas prenatal yoga. Harus diakui nafas panjang ini sangat membantu stamina saya tetap terjaga. Saya selalu mengingatkan diri untuk mengontrol nafas dan sebisa mungkin untuk tidak berteriak walaupun nikmatnya luar biasa. Kalaupun dirasa sakitnya mulai mencekam, saya lantunkan takbir atau tahlil. Pokoknya tidak boleh teriak.

Pukul 15.00 saya dinyatakan sudah memasuki pembukaan 8. Sedikit lagi! Kontraksi terasa semakin nikmat tak terkira.. Rasanya sudah melayang. Saya mulai merengek kepada para mama untuk memanggil bidan agar pembukaan saya dicek. Pukul 16.00 saya dinyatakan masih di pembukaan 8. Belum ada kemajuan. Disitu saya meringis. Mamah mertua nyeletuk, "Jangan-jangan dede nunggu papinya ya..". Saya langsung ingat, iya yah mana suamiku kok belum datang juga. 

Pukul 16.45 bidan memberi kabar bahwa saya sudah memasuki pembukaan lengkap. Saat itu bidan menyatakan kalau dokter kemungkinan besar baru bisa datang pukul 18.00. Saya ditanya apakah mau menunggu atau bersedia melalui persalinan dibantu dengan bidan. Dengan kontraksi yang luar biasa nikmatnya, saya merasa kalau tidak bisa menunggu lebih lama lagi karena hasrat untuk mengejan tak tertahankan. Akhirnya saya setuju untuk lahiran dibantu dengan bidan saja. Yang penting bayi saya sehat. 

Para bidan pun mulai mempersiapkan peralatan tempur. Salah satu momen yang berkesan adalah saat ketuban saya dipecahkan. Rasanya hangat dan membuat mulesnya semakin menjadi-jadi. Eh tapi, kok, suami saya masih belum datang juga ya? Hahaha duh paksu kau dimanaaa?

Suami pun akhirnya tiba dengan nafas terengah-engah dan bercucuran keringat pada pukul 17.00. Saat itu saya dalam prosesi mengejan. Saya lumayan kesulitan saat mengejan karena saya salah cara. Diperlukan lebih dari 5 kali mengejan hingga dede lahir. Walaupun suami tidak sempat menyaksikan proses pembukaan demi pembukaan, saya bersyukur dia masih bisa melihat saya mengejan. Hehe.



Tepat pada 23 Desember 2017 pukul 17.17, putra yang kami beri nama Shakeil Atharasyad Giovanni pun dilahirkan. Shakeil lantas diperdengarkan adzan dan iqamah oleh papinya di tengah proses IMD (Inisiasi Menyusu Dini). Alhamdulillah wa syukurillah..



Rasanya sangat terharu, lega, bahagia tak terkira. Allah Maha Baik :)

Saat ini, Shakeil sudah berusia 4 bulan. Mohon doanya supaya Shakeil menjadi anak yang sholeh, sehat, cerdas dan disayang Allah ya. Amin YRA.



Terima kasih banyak sudah berkenan membaca kisah saya ini walaupun terlambat sampai empat bulan lebih hehe. 

Much love!


Bia, Sony, Shakeil

No comments:

Post a Comment